Menemukan pedasnya Eropa di Budapest

Pagi itu udara dingin menyambut saya dan beberapa teman lainnya di bandara international Budapest Ferihegy, dengan temperatur 1°C dan kabut tebal seakan menghalangi kami menikmati indahnya pemandangan pagi itu. Setibanya di bandara Budapest, kami langsung ke loket money changer untuk menukarkan beberapa Euro ke Forint (Hungarian Forint/HUF), hanya untuk membeli tiket transport dalam kota.

Baru setelah membeli tiket, kami menuju pusat kota untuk menukar Euro lebih banyak untuk bekal selama berada di ibukota Hungaria ini karena exchange rate di bandara sekitar 259 HUF per 1 EUR sedangkan di seputaran pusat kota kami bisa dapat 311 HUF per 1 EUR. Setelah menggenggam beberapa lembar uang kertas dan logam yang berlaku di Hungaria, kamipun segera mencari makanan untuk disantap pada siang yang dingin dan berkabut di negara yang memiliki jumlah penduduk 10 juta jiwa, sama dengan jumlah penduduk di Jakarta.

Awalnya Budapest adalah tiga kota yang kemudian bersatu pada tanggal 17 November 1873, yang terdiri dari Buda, Pest and Óbuda. Kota bagian Buda dan Pest dipisahkan oleh sungai Danube yang membentang sepanjang 2.860 km, sungai Danube juga merupakan salahsatu sungai terpanjang di benua biru Eropa.

inside Budapest Central Market
inside Budapest Central Market

Hal yang mengejutkan di kota dengan luas area 525.2 km2 ini adalah selera lidah orang Hungaria sedikit berbeda dengan warga Eropa lainnya, seperti contohnya Jerman yang mana kebanyakan menu yang ditawarkan terasa hambar. Namun di Budapest kami menemukan selera pedas yang pas untuk wilayah Eropa. Salah satu menu yang sangat mirip sekali dengan „Ikan Asam Keueng“ adalah Fisherman’s soup atau dalam bahasa Hungaria disebut Halászlé. Menu Halászlé ini merupakan salah satu hidangan terpedas di benua Eropa yang menjadi ciri khas negara yang dilalui sungai Danube ini menggunakan bahan utamanya ikan air tawar.

Tidak hanya menu makanan yang pedasnya mantap, ketika memasuki Budapest Central Market, yang merupakan pasar traditional di Budapest, kami langsung teringat Pasar Aceh. Central Market ini terletak di bagian Pest, bangunan yang terdiri dari tiga lantai. Pada lantai dasar bisa ditemukan beraneka ragam bahan masakan seperti sayur, buah-buahan dan daging olahan serta daging segar. Di situ juga bisa ditemui beberapa macam rempah-rempah yang dijual untuk memperkaya rasa kuliner mereka. Pada lantai atas bisa dijumpai berbagai macam kios yang menjual beragam souvenir khas Budapest, diantaranya taplak meja, entah mengapa taplak meja begitu populer di sini. Dan pada lantai bawah umumnya mereka menjual berbagai jenis ikan segar yang masih hidup di dalam akuarium. Ada banyak kios di lantai bawah yang menjual ikan dan juga daging segar.

Kürtőskalács
Kürtőskalács

Indahnya budapest tidak hanya terletak pada makanannya yang pedas namun juga pada jajanannya, diantaranya Kürtőskalács, yang merupakan jajanan khas negara Hungaria. Setelah menjelajahi Budapest kami juga menemukan Kürtőskalács di Praha dengan rasa yang berbeda. Secara personal saya merekomendasikan Kürtőskalács di kota Budapest karena rasanya lebih nikmat dan teksturnya lebih lembut. Ketika kami berada di Budapest tepatnya di bulan Desember dimana malam bersinar terang dengan meriahnya hiasan lampu-lampu natal di pusat kota dalam berbagai warna. Hal tersebut tentu saja menambah keindahan ibukota Hungaria ini.

Ada satu hal yang terlewatkan ketika kami berada di Budapest, yaitu penjara drakula yang berada dekat Fisherman’s Bastion. Penjara ini kini menjadi museum dan kami menemukannya secara tidak sengaja ketika meninggalkan Fisherman’s Bastion untuk kembali ke penginapan. Dan pada waktu itu adalah hari senin dimana Museum umumnya tutup. Penjara tersebut bernama Labyrintus. Jadi cerita singkatnya drakula yang ditangkap di Romania dibawa ke Labyrintus untuk dipenjarakan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *